Home
Menekuni setiap langkahnya…Menikmati setiap detik-detiknya…
« Older| M | T | W | T | F | S | S |
|---|---|---|---|---|---|---|
| « Mar | ||||||
| 1 | 2 | 3 | 4 | 5 | 6 | |
| 7 | 8 | 9 | 10 | 11 | 12 | 13 |
| 14 | 15 | 16 | 17 | 18 | 19 | 20 |
| 21 | 22 | 23 | 24 | 25 | 26 | 27 |
| 28 | 29 | 30 | ||||
Tulisan Perpisahan
Ada saat pertemuan, ada saat perpisahan. Terhitung sudah hampir 4 tahun goresan-goresan saya tertuang dalam blog ini. Total jumlahnya 50 tulisan, comment-nya ada 55. Rata-rata saya menulis 1.51 tulisan/bulan. Teringat pertama kali menulis di blog ini tanggal 10 Juni 2005. Benar-benar tak terasa. Rasanya cepat sekali. Melihat-lihat tulisan-tulisan di belakang, terlintas lagi momen-momen kenapa saya menulis seperti itu. Ada yang saat terharu, ada yang saat bersemangat, ada yang saat bersedih, bermacam-macam. Ada juga yang momennya aneh. Hehehe…Lucu kalo ingat yang itu…
Dari semua tulisan yang ditulis disini, tulisan yang paling bermakna untuk saya adalah Kisah ke-12. Itu juga yang sedang saya rasakan sekarang. Tulisan itu menurut saya, paling menggambarkan perasaan saya..
Saya memutuskan berhenti menulis disini, salah satunya karena ngga mau menuh-menuhin inbox orang. Tidak semua tulisan disini bermanfaat untuk orang lain, jadi saya harus menghormati hak orang lain untuk tidak membaca tulisan saya yang tidak bermanfaat..Iya, kalau tidak memberi efek apa-apa, kalau memberi efek yang buruk kan ikut kena getah dosanya di akhirat nanti..=D. Rencananya saya mau menulis di tempat lain. Dengan begitu lebih aman damai sentosa dan sejahtera untuk semua..
Terima kasih kepada sahabat-sahabat yang sudah berkunjung dan juga yang sudah memberi comment. Semuanya jadi feedback yang berarti untuk saya. Selamat tinggal blog friendster..Terima kasih atas space-nya…
“Dan Kami ciptakan dari air segala sesuatu yang hidup.” (Q.S. Al Anbiya:30)
Beberapa hari yang lalu, ada seseorang yang memberi nasehat kepada saya. Salah satu patah kata yang saya ingat adalah, "Yang terbaik adalah seperti air…". Wah manis sekali kata-kata ’seseorang’ ini. Setelah saya renungkan, ternyata bagus ya maknanya.![]()
Melihat perjalanan air, air itu mengalir terus menuju laut dan tak satu kekuatan pun yang mampu membendung air sampai dia bersatu dengan samudera. Melihat dari ketegarannya, air juga tak pernah berhenti oleh apapun yang menghadangnya. Celah sekecil apapun tetap bisa dijadikannya sebagai ruang untuk terus mengalir sampai pada titik pemberhentian terakhirnya.
Abstrak. Tapi kalau dikonversi ke alam nyata dan disesuaikan konteksnya, inti pesannya, jangan bosan menunggu. Jangan berhenti berharap. Harapan-harapan itulah yang membuat kita tetap mau bangkit dari tempat tidur dan hidup hari demi hari. Tanpa harapan, hidup ini akan terasa hampa dan tidak berarti…
Nice…Thank You Very Much…=)
Where There’s a Will, There’s a Way…
Pernah mendengar nama Jaffrey Lang? Ia adalah seorang muallaf yang mentadaburi kisah Adam dan Hawa. Kisahnya ditulis dalam buku berjudul `Losing My Religion: A Call for Help’ dan telah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia dengan judul `Aku Beriman, maka Aku Bertanya’. Professor Matematika asli AS beristrikan wanita timur tengah ini menyusul beberapa professor lain yang masuk Islam karena kagum terhadap Alquran. Saya pun mendengar ada seorang Professor dari Thailand yang masuk Islam karena ayat mengenai siksa Allah terhadap penghuni neraka. Professor itu mengagumi ayat Alquran yang menurutnya sangat ilmiah. Padahal Alquran diturunkan sekitar 1400 tahun yang lalu. Ayat itu bercerita tentang manusia yang disiksa sedemikian hingga kulitnya terkelupas habis. Dan setelah itu dikatakan kira-kira redaksinya seperti ini,"..kemudian Kami jadikan kembali kulitnya..dan disiksa lagi..".Menurut pandangan sang Professor, artinya pada zaman itu pembuat Alquran sudah tahu bahwa reseptor rasa sakit itu adanya di kulit. Akhirnya, hanya dengan satu ayat itu saja Ia langsung masuk Islam.
Dalam satu ceramah dikatakan bahwa sudah ada 200 professor yang masuk Islam di Amerika Serikat dalam jangka 4 tahun terakhir. Rata-rata mereka semua terkagum-kagum dengan mukjizat Alquran. Ada yang perlu 1 surat, ada yang perlu 10 surat, ada yang cukup perlu 1 ayat saja seperti Professor dari Thailand tadi. Dalam bahasa arab, ayat berarti "tanda". Bila dipanjangkan bisa ditafsirkan "tanda bahwa Allah itu esa dan Tuhan satu-satunya (tauhid)". Tanda yang dari Alquran disebut tanda yang tertulis. Namun ada juga tanda yang tak tertulis.
Bagaimana tanda yang tidak tertulis bisa mendatangkan hidayah adalah seperti kisah Nabi Ibrahim as. Nabi Ibrahim as mentadaburi alam dan mencari siapa tuhan, apakah matahari, bulan,…dll. Setelah melalui perenungan, akhirnya Nabi Ibrahim as meyakini dengan sepenuhnya bahwa Allah itu adalah Tuhan Semesta Alam.
Lewat ayat manapun pada dasarnya untuk menemukan jalan cahaya itu memerlukan kemauan untuk mencari dan menemukannya. Baik untuk merenungkan, mentadaburi, maupun bertanya kesana kemari. Ia tak akan datang begitu saja. Terlepas kemauan itu berasal dari rasa ingin tahu maupun alasan lain. Kemauan adalah kunci. Sesungguhnya hukum alam ini berlaku untuk segala hal…
…Dimana ada kemauan…..
…
Disitu akan selalu ada jalan…..
Wallahua’lam bisshawab
Mengingat Kematian
Mati adalah takdir paling pasti dari hidup manusia. Pada akhirnya perjalanan manusia akan berakhir di liang lahat, sebuah petak 1 x 2 m. Tanpa membawa apapun selain seutas kain kafan. Ditemani papan dan gunungan tanah di atasnya. Saat dikuburkan, mungkin itulah momen terakhir sang mayat menjadi pusat perhatian. Setelah itu, setiap orang bahkan teman dekat dan keluarganya sendiri kembali disibukkan dengan urusan masing-masing. Sang mayat terlupakan dan harus menghadapi sendiri segala kejadian di dalam kuburnya.
Sesungguhnya, kesedihan yang dirasakan oleh keluarga adalah karena kepergian fisik dan hancurnya jasad. Sebenarnya badan manusia ini hanyalah kendaraan. Apabila akhirnya hancur lebur maka itu adalah suatu keniscayaan. Tak ada yang perlu ditangisi. Sedangkan ruhnya telah terbang ke tempat peristirahatannya. Rasulullah bersabda, " Sesungguhnya roh seorang mukmin seperti burung-burung yang digantung di pohon-pohon surga hanya Allah yang Maha Agung mengembalikan roh kepada jasadnya disaat hari kebangkitan tiba". Sungguh, penantian menuju alam akhirat adalah perjalanan yang sangat panjang.
Membayangkan saat sang mayat tersadar di alam kubur. Ia pasti sangat terkejut dalam suasana yang tak terlukiskan dan merasa bersedih dengan kesedihan yang tak terbayangkan. Ia akan menyesali waktu-waktu yang telah terlewati dan hal-hal yang belum sempat dikerjakannya. Bahkan saat menjelang kematiannya mungkin ia ingin bunuh diri saja karena kekecewaan dan penyesalan. Andaikata ia mendapatkan suatu pelajaran yang sangat berharga dari semua itu saat masih sehat, pasti ia akan melakukan amal-amal dalam hidupnya dengan penuh kesungguhan…
Sebuah pelajaran berharga dari mereka yang telah mendahului kita, untuk kita yang masih (diberi kesempatan untuk) hidup…
Wallahua’lam bisshawab..
(Dari pengalaman menghadiri pemakaman ayahanda dari Faraby Martha, 29 Februari 2008. Semoga Allah mengampuni segala dosa almarhum dan memasukkannya ke dalam golongan orang-orang yang selamat. Amiin)
Back to the Track
Menembus Rintangan
Sesaat tersadar. Jalur telah berubah. Jalan panjang kembali terbentang. Menatap lika-liku nan terjal. Mendaki tinggi lagi penuh tantangan. Terlihat angker dan penuh marabahaya. Entah binatang buas dan makhluk apa yang akan menyergap. Entah bantuan apa yang akan menyertai. Entah jebakan dan ranjau apa yang telah tersedia disana. Entah berapa lama dan sampai kapan. Semua masih misteri.
Bekal apa yang telah disiapkan?
Semua sudah siap. Bekal terkuat ada di dalam hati. Bekal sisanya tak dapat diperkirakan seluruhnya. Senter untuk malam hari, makanan, buku catatan, jaket tebal, pakaian anti air, pisau lipat, bahan pembuat api, tali untuk melewati sungai, bahan pembersih dan pencuci, teropong jarak jauh, tenda, GPS, tongkat. Semua sudah siap.
Telah diketahui medan. Tersusun strategi. Menyegarkan panorama dengan harapan tak selalu buram. Mungkin ada pemandangan nan elok, mungkin ada air sungai yang jernih dan segar, mungkin ada sawah hijau indah membentang, mungkin ada air terjun deras berkilau, mungkin ada danau tempat sedikit melepas jenuh. Angin, awan, hujan, serangga bisa juga jadi kawan.
Dengan memohon rahmat dan pertolongan-Nya, semoga perjalanan ini lancar. Bismillah…
Laki-laki dan Kesabaran
Sebuah media massa Indo baru-baru ini memuat berita bahwa di Cina, misalnya di kota-kota besar Shanghai dan Ghuangzhou, laki-laki yang berprofesi sebagai perawat sangat langka. Dari 130 peserta institut keperawatan, laki-lakinya hanya berjumlah 8 orang. Padahal perawat laki-laki sangat dibutuhkan disana. Hal ini terkait dengan pandangan bahwa pekerjaan perawat untuk laki-laki merupakan sesuatu yang kurang wajar. Kelangkaan ini menurut sebagian orang, karena merawat pasien itu adalah pekerjaan wanita. Konon katanya, wanita lebih sabar dan hati-hati dibandingkan dengan laki-laki. Pekerjaan merawat pasien dianggap pekerjaan yang menuntut kesabaran, seperti waktu menyuntik dan mengontrol obat.
Menggarisbawahi pernyataan, "Konon katanya, wanita lebih sabar dan hati-hati dibandingkan dengan laki-laki.". Menanggapi hal tersebut, saya ngga yakin kalau wanita lebih sabar dari laki-laki (kan..namanya juga ‘katanya’). Belum ada penelitian yang membandingkan tingkat kesabaran antara laki-laki dan perempuan. Ya mungkin ada benarnya, tapi mungkin juga banyak salahnya, bukan?
Menurut saya siy, sama saja ya….Ngomong-ngomong tentang kesabaran, untuk kaum laki-laki, teladannya adalah Rasulullah. Rasulullah adalah sosok yang sangat sabar. Seperti cuplikan kisah berikut :
#1 :
Suatu hari - setelah Rasulullah wafat - abubakar ra mendatangi seorang pengemis Yahudi buta dan memberikan makanan itu kepadanya. Ketika Abubakar ra mulai menyuapinya, si pengemis marah sambil berteriak, "Siapakah kamu?"
Abubakar ra menjawab, "Aku orang yang biasa datang."
"Bukan! Engkau bukan orang yang biasa mendatangiku,"jawab si pengemis buta itu. Orang yang biasa mendatangiku itu selalu menyuapiku, tapi terlebih dahulu dihaluskannya makanan tersebut dengan mulutnya, setelah itu ia berikan padaku dengan mulutnya sendiri."
Abubakar tidak dapat menahan airmatanya, ia menangis sambil berkata dengan pengemis itu, "Aku memang bukan orang yang biasa datang padamu. Aku adalah salah seorang dari sahabatnya, orang yang mulia itu telah tiada. Ia adalah Muhammad Rasulullah saw."
Setelah pengemis itu mendengar cerita Abubakar ra ia pun menangis dan kemudian berkata, "Benarkah demikian? Selama ini aku selalu menghinanya, memfitnahnya, ia tidah pernah memarahiku sedikitpun, ia mendatangiku dengan membawa makanan setiap pagi, ia begitu mulia." Pengemis Yahudi buta tersebut akhirnya bersyahadat dihadapan Abubakar ra…
Wallahua’lam bisshawab..
Sekilas Profil Majalah STOVIA (2)
Rasanya tak lengkap bercerita tentang suatu hal tanpa memperlihatkan gambarnya. Berhubung baru terbit 1 edisi (Januari-Februari) maka ini yang ditampilkan. Ini dia beberapa ilustrasinya :
Halaman Rubrik "Cinderamata" dan "Sekilas Fakultas" :
Sekilas Profil Majalah STOVIA (1)
DI UI, beberapa fakultas memiliki majalah masing-masing, misalnya yang sudah tersohor, FE dan FH. Bahkan UI pun punya majalah sendiri. FK termasuk yang belum. Namun itu dulu, sekarang FKUI punya sebuah majalah baru yang bernama Majalah STOVIA.
Majalah STOVIA dibuat atas inisiatif staf HUMAS FKUI sekarang ini, Mba Nia namanya(begitu biasa kami memanggilnya). Alasannya, sudah menjadi tuntutan di masa sekarang ini, bahwa setiap institusi harus bisa mengkomunikasikan dengan baik setiap informasi kepada para stake holdernya. Tujuannya selain untuk menjaga kesamaan gerak langkah, juga untuk bisa mengajak semua komponen untuk mau bersama-sama menuju kemajuan yang diharapkan sesuai visi-misi FKUI 2010.
Tak banyak yang tahu bagaimana sejarah pembuatannya. Di awal pembuatannya, majalah STOVIA merupakan sebuah proyek yang terbuka untuk umum. Namun, respon yang muncul ternyata tidak sesuai yang diharapkan. Tidak ada pihak yang bersedia mengerjakan proyek majalah ini. Akhirnya, alumni koran kampus 2007-2008 dipercaya untuk menggarap pembuatan majalah ini yang waktu itu masih tanpa nama..
Mulailah kita (saya, abdilla-Pemimpin Umum Koran Kampus 07-08, dan mba Nia) menyusun konsep majalah dari mulai nama, rubrik, personalia, sampai percetakan dan distribusi. Kemudian konsep tersebut dipresentasikan di Rapimtas (Rapat Pimpinan Terbatas) Dekanat, yang dihadiri oleh Jajaran Dekan dan manajer FKUI. Setelah tanya jawab dan masing-masing manajer mengutarakan harapan-harapannya, mereka akhirnya menyetujui konsep tersebut.
Ditetapkan nama majalah kita adalah STOVIA, karena nama ini memang punya image yang kuat, dikenal luas, dan jadi ciri khas FKUI. Kemudian disusun personalia, kru STOVIA seperti yang terpajang di foto diatas. Dengan jumlah 48 halaman, rubrik yang disusun diharapkan dapat memfasilitasi semua pihak. Majalah akan terbit 2 bulan sekali, dengan oplah 1000 eksemplar setiap terbitnya, plus CD-nya.
Salah satu keunikan majalah STOVIA dibandingkan dengan majalah fakultas lain adalah bahwa majalah STOVIA diterbitkan dalam 2 bahasa, yaitu Indonesia dan Inggris. Selain dalam bentuk hardcopy, kita juga membuat dalam bentuk CD yang dibagikan secara gratis.
DIstribusi majalah STOVIA sangat luas. Selain dibagikan secara gratis kepada staf FKUI, orang tua, alumni serta mahasiswa dan tamu-tamu yang datang ke FKUI baik lokal maupun asing, majalah STOVIA juga dikirimkan ke seluruh fakultas di UI dan ke rumah-sakit jejaring FKUI. Selain itu, dikirim juga ke seluruh fakultas kedokteran di Indonesia dan universitas rekanan FKUI di luar negeri seperti Belanda dan Australia.
Untuk umum, majalah STOVIA bisa diperoleh di perpustakaan FKUI, jalan Salemba No.6. Bagi yang suka menulis, bisa mengirimkan tulisannya ke majalah STOVIA lewat email stovia.fkui@gmail.com. Selain tulisannya dapat dibaca dan bermanfaat untuk banyak orang, ada hadiah dan souvenir menarik untuk yang tulisannya dimuat..Kesempatan yang layak dicoba bukan? Tunggu apalagi?!
Keterangan foto dari kiri ke kanan, atas ke bawah :
Sarah MRP (redaksi), Abdilla (layouter), Saya, mba Nia (PU), Dian (foto), Anes (foto), Suci, Icha, Eta (redaksi), Nina (Iklan), Cide, Chrisen (alih bahasa), Hafiz (foto), Safira (percetakan, distribusi)
(Momen: Ulang tahun Icha)
Seri Psikologi 1
Obat Rasa Kecewa
Apakah Anda pernah merasa kecewa atau dikecewakan?
Bagaimana rasanya?
Beberapa waktu lalu ada seorang sahabat yang membagi ceritanya tentang kekecewaan yang dirasakannya. Bukan sekedar kecewa, tapi rasa kecewa yang teramat dalam. Saya lihat memang dia menjadi sangat keras dan tanpa ampun. Dia sendiri menyadari bahwa sekarang dia sudah seperti orang tak berperasaan. Alhasil, menjadi mudah sekali untuk memicu pertengkaran dengan orang lain. Kehilangan rasa percaya dan menganggap semua orang sama. Saya memaklumi karena kekecewaan yang dia rasakan sangat mendalam dan hatinya sangat terluka.
Menurut saya, apa yang dialaminya adalah sesuatu yang berat. Karena saya pernah mengalaminya, tak sulit bagi saya untuk memberi resep obat untuk menyembuhkannya.
Saya katakan padanya bahwa :
Saya tak tahu bagaimana hasilnya. Tapi resep ini pernah manjur pada diri saya sendiri. Entah pada orang lain, termasuk Anda..
Bersabar Menempuh Ketaatan
Menempuh ketaatan, tak ada yang bilang mudah. Dalam kenyataannya lebih banyak orang yang masuk neraka daripada yang masuk surga. Itu karena menempuh ketaatan itu memang berat. Ada yang berani bilang mudah??
Padahal Tuhan telah memberikan petunjuk tertulis, masih saja tergelincir…
Padahal Tuhan telah menurunkan contoh teladan untuk ditiru, masih saja tersesat…
Padahal Tuhan telah menciptakan berbagai keajaiban dan kesempurnaan dalam dirinya, masih saja tak menyadari..
Padahal telah dipasang rambu-rambu di sepanjang jalan, masih saja terjun ke jurang…
Apa lagi yang kurang??
Telah diiming-imingi kenikmatan yang abadi, masih tak tergiur…
Telah diberi kemudahan dengan berbagai ampunan dan jalan kembali, masih berbangga pada jalan yang salah…
Telah menabrak sana-sini, masih keras kepala…
Ada 70 pintu Surga dan setiap orang bisa memilih mau masuk pintu yang mana sesuai dengan amalnya, masih tak jadi bagian dari salah satunya?
Sungguh keterlaluan…
Ada baiknya kita meniru salafus shalih zaman dulu..
Ketika hati keras dan membatu, berkunjung ke makam para ulama..
Merenungi perjuangan mereka..
Berpikir bahwa apa yang kita hadapi saat ini sungguh tak ada apa-apanya…
Mengambil pelajaran dari kisah Adam as…
Bahwa sesuatu yang bungkus luarnya indah seringkali dalamnya hanya kehampaan dan kepahitan…
Jangan tertipu…
Percayalah…
Meskipun sederhana, meskipun penuh derita..
Belajar menempuh ketaatan dengan segala hikmahnya itu jauh lebih manis dari apapun..
Sungguh, manisnya meresap sampai ke dalam dada…
Bila Engkau percaya…